Kamis, 16 Mei 2019

TEKNIK PERAWATAN MESIN

TUGAS TEKNIK PERAWATAN MESIN


Perawatan merupakan Suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang, memperbaikinya sampai pada suatu kondisi yang dapat diterima. oleh karena itu untuk sebuah barang yang tentunya memiliki kegunaan dan cara kerjanya yang berulang-ulang tentunya dapat mengakibatkan adanya penurunan kualitas dan kinerja. maka dibutuhkan adanya perawatan yang dimana hal-hal tersebut dapat diminimalisirkan.
perawatan itu sendiri ada berbagai jenis. berikut adalah jenis dan studi kasus perawatannya sebagai berikut:

Perawatan Frekuentif 
merupakan suatu kegiatan perawatan pada alat/barang yang dilakukan berdasarkan jangka waktu atau pemakaian yang sudah ditetapkan. pada perawatan ini contohnya pada kendaraan sepeda motor yang dimana mesin memerlukan pergantian oli sesuai standar pabrik. pada standar jadwal service motor Honda sudah mempunyai jadwal frekuentif perawatan berdasarkan kilometer pemakaian motor seperti gambar berikut:
contohnya pada penggantian oli rutin dimaksimalkan per 4000 KM penggunaan motor. tentunya oli juga diusahakan disesuaikan dengan spesifikasi motor tersebut.
telatnya pergantian oli tentunya sangat tidak dianjurkan karena mempengaruh terhadap performa dan durabilitas mesin tersebut. ada beberapa kasus oli sudah lama tidak diganti maka terjadinya penyusutan hingga mesin terjadi overheat sehingga piston dan silinder memuai hingga macet total sehingga tingkat kerusakan yang didapat jauh lebih buruk.

Perawatan Korektif
perawatan Korektif merupakan bentuk perawatan yang dimana melakukan perbaikan kondisi setelah adanya indikasi kerusakan. Berbeda dengan frekuentif yang dimana perawatan dilakukan secara berkala dan bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan. perawatan ini biasanya dilakukan dengan cara mengganti suku cadang dan merekondisi ulang mesin tersebut. Contohnya pada kasus motor yang jarang mengganti oli sehingga oli tidak melumasi silinder dengan baik hingga terjadinya over friction dan permukaan silinder menjadi tidak simetris. Bila dibiarkan maka motor pada awalnya akan terasa kasar, bising, Loss Kompresi dan asap putih pekat diakibatkan oli masuk keruang bakar seperti yang ditunjukan gambar berikut

Diagnosa Kerusakan Mesin
pada kondisi mesin yang terlanjur rusak, untuk memperbaikinya perlu mendiagnosa terlebih dahulu penyebabnya apa. Banyak faktor yang bisa membantu diagnosa tersebut seperti menggunakan alat uji, pengecekan konvensional hingga pengalaman mekanik itu sendiri. Maka dari itu 3 faktor tersebut harus bisa dimanfaatkan dan disediakan. Contohnya jika sebuah sepeda motor mengalami lampu redup maka mekanik akan mengecek terlebih dahulu lampu tersebut apakah putus atau tidak. Jika tidak, maka diperlukan alat Multi tester yang dimana perlu diselidiki apakah tegangan dan arus yang diterima cukup atau tidak. Bahkan perlu dicek kembali apakah spull lemah apa tidak.

Minggu, 14 Oktober 2018

Re-Search Penulisan Ilmiah



1.1              Latar Belakang
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dibidang manufacturing yang menurut semua kalangan intelektual untuk lebih maju dalam berpikir dan menciptakan komponen pendukung maupun suatu unit produk yang di butuhkan dalam dunia industri. Seperti halnya perusahaan-perusahaan pembuat alat pendukung angkutan truk yang sangat dibutuhkan dalam perusahaan perkebunan dan pertambangan.
Dump Truck (dump truk) merupakan alat berat yang berfungsi untuk mengangkut atau memindahkan material pada jarak menengah sampai jarak jauh (> 500m). Dump Truck biasa digunakan untuk mengangkut material alam seperti tanah, pasir, batu split, hasil perkebunan dan material olahan seperti beton kering pada proyek konstruksi. Umumnya material yang dimuat pada dump truck oleh alat pemuat seperti excavator backhoe atau loader. Untuk membongkar muatan material bak dump truck dapat terbuka dengan bantuan sistem hidrolik.
Faktor-faktor yang terpenting dalam proses produksi bak truk adalah proses pertama yaitu pemilihan bahan yang sesuai dengan jenis beban yang akan di aplikasikan, proses yang kedua yaitu proses pembentukan suatu lembaran plat yang di bentuk menjadikan suatu bentuk bagian-bagian dengan cara pembentukan pemotongan (Shearing) dan penekukan (Bending) oleh mesin yang telah di tentukan, proses yang ketiga yakni proses pengelasan (welding) sesuai dengan welding map jika sesuai dengan penggunaan aplikasinya maka Dump Truck khususnya bagian pada bak pun akan bekerja sesuai dengan fungsi kerjanya yakni sebagai penyimpanan dan angkutan material yang diinginkan.
           Hal tersebut di atas adalah yang melatar belakangi setiap langkah dan usaha kita dalam hal cara proses produksi Dump Truck yang baik dan benar. Salah satunya adalah proses produksi dasar untuk Bak Dump Truck berkapasitas 8 CBM. Dalam pembuatan dasar bak Dump Truk ini juga membutuhkan mesin-mesin produksi berkualitas dan operator sangat berperan penting demi kelancaran produksi.      
1.2              Permasalahan
Proses pembuatan dasar untuk Dump truck, memerlukan beberapa proses khususnya untuk membuat bak dump truk tersebut, mesin-mesin yang digunakan digolongkan 3 bagian utama diantaranya mesin pembentukan material, mesin penyatuan material dan mesin pembersih serta pengecatan material.
1.3       Batasan Masalah
            Pembatasan masalah dalam penulisan ilmiah ini adalah mengenai proses pembuatan dasar untuk Bak Dump truck 8 m3 yang meliputi :
  1. Menjelaskan mesin-mesin yang digunakan untuk pembuatan dasar Bak Dump Truck 8 m3.
  2. Menjelaskan tahapan proses pembuatan dasar untuk Bak Dump Truck 8 m3.

`1.4      Tujuan
            Berikut adalah tujuan dari penulisan ilmiah ini antara lain:
  1. Untuk mengetahui proses pembuatan Dump Truck khususnya untuk Bak Dump Truk 8 m3 yang digunakan sebagai tempat angkutan material pada kegiatan pertambangan dan perkebunan.
  2. Dapat menganalisa jumlah penggunaan kawat las pada satu unit Bak Dump Truck.

Jumat, 06 Juli 2018

Dampak dari isu teror pengeboman

Berikut adalah karya tulis saya untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Gunadarma.

Selasa, 31 Oktober 2017

AMDAL DARI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA


AMDAL DARI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA



        seperti yang kita ketahui, bahwa limbah merupakan zat sisa dari sebuah kegiatan tertentu. Limbah ini tentunya wajib kita perhatikan, karena dapat menimbulkan hal yang buruk bagi lingkungan disekitarnya. Bagi secara langsung atau tidak langsung. Limbah dapat kita temukan dari hasil kegiatan Pabrik, rumah tangga dan lain-lain. Limbah bisa berbentuk cairan, padat, gas hingga suara. Dengan adanya limbah itu kita dapat menganalisis apa dampak dari sesuatu kegiatan tertentu. sebelum membahas yang lebih jauh, kita akan sedikit membahas apa itu AMDAL.

        Analisis dampak lingkungan (di Indonesia, dikenal dengan nama AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup di sini adalah aspek abiotik, biotik dan kultural. Dasar hukum AMDAL di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang “Izin Lingkungan Hidup” yang merupakan pengganti PP 27 Tahun 1999 tentang Amdal.

       Pengertian Analisis Mengenai Dampak LIngkungan (AMDAL) menurut PP Nomor 27 tahun 1999 pasal 1 adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan kegiatan. Arti lain analisis dampak lingkungan adalah teknik untuk menganalisis apakah proyek yang akan dijalankan akan mencemarkan lingkungan atau tidak, dan jika ya, maka akan diberikan jalan alternatif pencegahannya atau suatu hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan dan diperkirakan mempunyai dampak peting terhadap lingkungan hidup.

Jenis – Jenis AMDAL :

AMDAL TUNGGAL adalah hanya satu jenis usaha dan atau kegiatan yang berkewenang pembinaan dibawah satu instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan

AMDAL TERPADU ATAU MULTISEKTORAL adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha atau kegiatan terpadu yang direncanakan terhadap LH dan melibatkan lebih dari 1 instansi yang membidangi kegiatan tersebut

AMDAL KAWASAN adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap LH dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah sesuai dengan RT atau RW yang ada.

Tujuan dan Fungsi AMDAL

Tujuan : Secara umum menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta menekan pencemaran sehingga dampak negatifnya menjadi serendah mungkin

Fungsi :

  • Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
  • Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan atau kegiatan
  • Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan atau kegiatan
  • Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelola dan pemantauan lingkungan hidup
  • Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak ditimbulkan dari suatu rencana usaha dann atau kegiatan
  • Awal dari rekomendasi tentang izin usaha
  • Sebagai Scientific Document dan Legal Document
  • Izin Kelayakan Lingkungan
  • Menunjukkan tempat pembangunan yang layak pada suatu wilayah beserta pengaruhnya
                                                                                                                                     
Sebagai masukan dengan pertimbangan yang lebih luas bagi perencanaan dan pengambilan keputusan sejak awal dan arahan atau pedoman bagi pelaksanaan rencana kegiatan pembangunan termasuk rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan.



Setelah membahas tentang AMDAL itu sendiri, kita mulai membahas topik yang utama yaitu dampak lingkungan dari kegiatan Rumah Tangga.

walaupun rumah tangga tidak melakukan kegiatan produksi seperti pabrik-pabrik, ternyata juga memiliki sebuah Limbah yang bervariasi. Kita harus memahami hal ini, karena sangat penting demi menjaga kelestarian dan kesehatan dari adanya zat yang kita sebut limbah. 



diatas salah satunya limbah cairan yang dihasilkan dari pencucian berbahan deterjen. Tentunya limbah ini tidak baik secara langsung bagi ekosistem disungai. Dengan adanya ini, tentunya cukup berbahaya untuk kesehatan manusia juga. Selagi manusia itu mengkonsumsi air sungai tersebut.
perlu adanya Filter atau kegiatan untuk mengurangi adanya limbah tersebut. Hal ini masih cukup sulit untuk mengurangi adanya pembuangan air limbah deterjen disungai.


berikut merupakan limbah yang dapat dihasilkan dari kegiatan rumah tangga. Sampah pasti sudah hal yang terbiasa terlihat. Tidak hanya di lingkungan rumah saja, namun di sekolah, kantor sampai dijalanan pun ada. Namun masih saja ada yang masih kurang peduli dengan lingkunga dengan membuang sampah dimana saja. 
perlu adanya kesadaran dari manusia itu sendiri. Karena apabila terus berlanjut, lambat laun makin terasa dampaknya dari segi estetika, kesehatan dan ekosistem.

Salah satu penyebab banjir di Kota Kota besar adalah sampah yang memenuhi sungai sehingga sungai meluap tak terkontrol.

diatas merupakan WC yang disitu juga menghasilkan limbah dari zat sisa manusia yaitu tinja. Tinja itu sendiri disimpan kedalam tank septic didalam tanah. Namun masih ada saja manusia yang membuang hajat disungai. tentunya sangat tidak baik bagi lingkungan sungai itu sendiri. 

Diatas merupakan limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga. Disini saya menganalisis bahwa limbah itu harus cepat ditangani. Karena cukup berpengaruh pada ekosistem sekitar. Disini kita sebagai manusia harus peduli, harus bisa menempatkan suatu limbah yang benar. Dan dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju, limbah-limbah tersebut dapat dimanfaatkan kembali. contohnya sampah plastik yang dapat kita daur ulang menjadi pernak-pernik. Septic tank dapat kita manfaatkan gas nya menjadi Bio Gas sebagai bahan bakar pengganti gas LPG, dan masih banyak lagi. 


Senin, 09 Oktober 2017

ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN DARI BENGKEL MOTOR

 PENGARUH USAHA BENGKEL MOTOR TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR

   Lingkungan hidup merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk ditelah sebelum suatu investasi atau usaha dijalankan.dampak yang timbul ada yang langsung memengaruhi pada saat kegiatan usaha/proyek dilakukan sekarang atau baru terlihat beberapa waktu kemudian dimasa yang akan datang.perubahan lingkungan ini jika tidak diantisipasi dari awal akan merusak tatanan yang sudah ada,baik terhadap fauna,flora,maupun manusia itu sendiri.

·         PENGARUH TERHADAP KUALITAS UDARA


1.      Meningkatnya kadar karbon di udara
Sisa pembakaran mengandung karbon, misalnya Karbon dioksida atau karbon monoksida. Emisi Gas-gas tersebut dapat menimbulkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah proses penahanan radiasi sinar matahari sehingga permukaan bumi menjadi lebih panas.

2.      Debu/partikulat Partikulat adalah zat padat berukuran sangat halus. Misalnya pada debu yang menempel pada motor, dsb. Partikulat jenis tertentu bila terhirup dapat mengakibatkan penyakit saluran pernapasan pada manusia.

3.      Gas-gas berbahaya
Jenis industri tertentu, misalnya industri kimia menghasilkan pencemar berupa gas-gas berbahaya. Gas-gas tersebut bila tidak diolah dengan benar dapat mengakibatkan bencana yang fatal bagi manusia.

·         PENGARUH TERHADAP TANAH
1.     






1.       Perubahan struktur tanah
Akibat buangan limbah tertentu (misalnya limbah mengandung lemak/minyak, oli), tanah akan berubah menjadi keras dan liat sehingga sulit untuk diolah.

2.      Perubahan komposisi tanah
Pembangunan tanpa memperhatikan kemiringan lahan, serta tanpa memperhatikan fungsi konservasi menyebabkan unsur hara tanah akan mudah hanyut bersama air hujan. Hal ini tentu sangat merugikan, karena membuat tanah akan kehilangan kesuburannya.

3.      Perubahan fungsi konservasi vegetasi di atas tanah
Pembangunan sudah pasti mengurangi/meniadakan tanaman di atas tanah. Bahkan beberapa jenis industri menggunakan kayu sebagai bahan baku (misalnya penggergajian dan pengawetan kayu, furniture, dsb.) Sehingga lenyaplah fungsi vegetasi/tetumbuhan di atas tanah sebagai penahan hilangnya unsur hara tanah, penahan air dan penahan longsor.

·         PENGARUH TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT
1.      Berbagai penyakit pernapasan akibat pencemaran udara
Asap knalpot motor serta partikulat dapat menyebabkan berbagai penyakit pernapasan. Bila kesehatan masyarakat dan pekerja terganggu maka produktifitas juga akan terganggu. Pada akhirnya juga akan membawa pengaruh buruk pada kinerja perusahaan itu sendiri.

2.      Stres akibat kebisingan
Kebisingan pada tingkatan tertentu dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan stres pada manusia di sekitarnya.

3.      Penyakit kulit akibat pembuangan limbah cair
Limbah cair tertentu bila dibuang ke badan air dan badan air tersebut digunakan untuk MCK masyarakat, akan dapat menyebabkan penyakit gatal-gatal. Meski begitu banyak dampak kegiatan/usaha.

DAMPAK EKONOMI DENGAN ADANYA BENGKEL

Dampak positif dari aspek ekonomi bagi masyarakat :
1.   Dapat meningkatkan ekonomi di lingkungan sekitar melalui : mengurangi pengangguran di lingkungan sekitar masyarakat yang akhir-akhir ini semakin bertambah.
2.   Menggali, mengatur dan menggunakan ekonomi sumber daya alam melalui : dengan adanya Bengkel Kenteng dan Cat Mobil tersebut masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas yang ada.
3.   Meningkatkan perekonomian pemerintah melalui : dengan adanya Bengkel Kenteng dan Cat Mobil tersebut dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang belum cukup maju.


Sekian ulasan tentang dampak adanya usaha bengkel. Setiap kegiatan bisa memiliki dampak yang baik maupun tidak baik. Kita sebagai manusia wajib memperhatikan lingkungan.


Kamis, 24 November 2016

PELAPISAN SOSIAL

NAMA :  KEVIN RAVEN DICAPRIO
KELAS : 1 IC08
NPM   :  23416969
DOSEN:  AHMAD NASHER

UNIVERSITAS GUNADARMA

PELAPISAN SOSIAL


Pelapisan Sosial
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat). Definisi sistematik antara lain dikemukakan oleh Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosialP.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan. Istilah stand juga dipakai oleh Max Weber.
Terjadinya Pelapisan Sosial
Terjadinya Pelapisan Sosial terbagi menjadi 2,  yaitu:
·         Terjadi dengan Sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdasarkan atas kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat itu, tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya. Oleh karena itu sifat yang tanpa disengaja inilah yang membentuk lapisan dan dasar dari pada pelapisan itu bervariasi menurut tempat, waktu, dan kebudayaan masyarakat dimana sistem itu berlaku.
·         Terjadi dengan Sengaja
Sistem pelapisan ini dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama. Dalam sistem ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya kewenangan dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.
Didalam sistem organisasi yang disusun dengan cara sengaja, mengandung 2 sistem, yaitu:
1.   Sistem Fungsional, merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat.
2.   Sistem Skalar, merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari bawah ke atas ( Vertikal ).
study kasus :
pelapisan sosial pada kaum ningrat dengan kaum awam.
Kaum ningrat tidak di perbolehkan berhubungan dengan kaum awam dikarenakan perbedaan sosial.
2.2   PERBEDAAN SYSTEM PELAPISAN DALAM MASYARAKAT
Masyarakat terbentuk dari individu-individu. Individu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok social.
Masyarakat dan individu adalah komplementer dapat dilihat dalam kenyataan bahwa:
·         Manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya
·         Individu mempengaruhi masyarakat dan bahkan menyebabkan perubahan
Ada beberapa pendapat menurut para ahli mengenai strafukasi sosial diantaranya menurut Pitirin
A. Sorikin bahwa “pelapisan masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat”.
Theodorson dkk berpendapat bahwa “pelapisan masyarakat adalah jenjang status dan peranan yang relative permanen yang terdapat dalam system social didalam hal perbedaan hak,pengaruh dan kekuasaan”.
Masyarakat yang berstatifikasi sering dilukiskan sebagai suatu kerucut atau piramida, dimana lapiasan bawah adalah paling lebar dan lapisan ini menyempit keatas.
B. Pelapisan sosial ciri tetap kelompok sosial
Pembagian dan pemberian kedudukan yang berhubungan dengan jenis kelamin nampaknya menjadi dasar dari seluruh system sosial masyarakat kuno.
Di dalam organisasi masyarakat primitifpun dimana belum mengenai tulisan. Pelapisan masyarakat itu sudah ada. Hal itu terwujud berbagai bentuk sebagai berikut:
·         Adanya kelompok berdasarkan jenis kelamin dan umur dengan pembedaan-pembedaan hak dan kewajiban
·         Adanya kelompok-kelompok pemimpin suku yang berpengaruh dan memiliki hak-hak istimewa
·          Adanya pemimpin yang saling berpengaruh
·          Adanya orang-orang yang dikecilkan diluar kasta dan orang yang diluar perlindungan hokum
·          Adanya pembagian kerja di dalam suku itu sendiri
·          Adanya pembedaan standar ekonomi dan didalam ketidaksamaan ekonomi itu secara umum
Pendapat tradisional tentang masyarakat primitif sebagai masyarakat yang komunistis yang tanpa hak milik pribadi dan perdagangan adalah tidak benar. Ekonomi primitive bukanlah ekonomi dari individu-individu yang terisolir produktif kolektif.
2.3     Teori Tentang Pelapisan Sosial
Pelapisan masyarakat dibagi menjadi beberapa kelas :• Kelas atas (upper class)
• Kelas bawah (lower class)
• Kelas menengah (middle class)
• Kelas menengah ke bawah (lower middle class)

Beberapa teori tentang pelapisan masyarakat dicantumkan di sini :
1) Aristoteles mengatakan bahwa di dalam tiap-tiap Negara terdapat tiga unsure, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang berada di tengah-tengahnya.
2) Prof. Dr. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH. MA. menyatakan bahwa selama di dalam masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai.
3) Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu yaitu golongan Elite dan golongan Non Elite. Menurut dia pangkal dari pada perbedaan itu karena ada orang-orang yang memiliki kecakapan, watak, keahlian dan kapasitas yang berbeda-beda.
4) Gaotano Mosoa dalam “The Ruling Class” menyatakan bahwa di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang kurang berkembang, sampai kepada masyarakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas pertama (jumlahnya selalu sedikit) dan kelas kedua (jumlahnya lebih banyak).
5) Karl Mark menjelaskan terdapat dua macam di dalam setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyainya dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses produksi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan jika masyarakat terbagi menjadi lapisan-lapisan social, yaitu :
a. ukuran kekayaan
b. ukuran kekuasaan
c. ukuran kehormatan
d. ukuran ilmu pengetahuan



Kesimpulan:

 pelapisan Sosial yaitu suatu tingkatan suatu masyarakat yang terjadi karena fakrot-faktor tertentu hingga muncul adanya suatu pandangan, kehormatan, keseganan, tingkat harta dan lain-lain. Faktor yang membuat munculnya Lapisan sosial yaitu ukuran kekayaan, kehormatan, jabatan, ilmu pengetahuan, kepribadian dan lain-lain. Lapisan Sosial tidak dapat dihindari karena sudah hakekat manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi sesama manusia.



sumber: http://cumanposting.blogspot.co.id/2011/12/pelapisan-sosial-dalam-masyarakat.html

Rabu, 23 November 2016

rel kereta api

REL KERETA API

Jalan rel kereta api (UK: Railway Tracks, US: Railroad Tracks) atau biasa disebut dengan rel kereta api, merupakan prasarana utama dalam perkeretaapian dan menjadi ciri khas moda transportasi kereta api. Ya, karena rangkaian kereta api hanya dapat melintas di atas jalan yang dibuat secara khusus untuknya, yakni rel kereta api. Rel inilah yang memandu rangkaian kereta api bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.
Dalam pengamatan secara awam, kita melihat rel sebagai jalan untuk lewat kereta api yang terdiri atas sepasang batang rel berbahan besi baja yang disusun secara paralel dengan jarak yang konstan (tetap) antara kedua sisinya. Batang rel tersebut ditambat (dikatikan) pada bantalan yang disusun secara melintang terhadap batang rel dengan jarak yang rapat, untuk menjaga agar rel tidak bergeser atau renggang.
Sejarah Rel Kereta Api
Prinsip jalan rel telah berkembang sejak 2.000 tahun yang lalu. Waktu itu sarana transportasi untuk mengangkut penumpang dan barang masih sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan kereta roda. Jalan yang dilewati masih berupa jalan tanah yang berdebu. Ketika jalan tanah tersebut diguyur hujan, kondisinya menjadi lembek dan kereta roda yang lewat meninggalkan bekas cekungan pada tanah. Setelah kering, cekungan tersebut mengeras, dan beberapa kereta roda yang lewat berikutnya juga melewati cekungan tersebut. Ternyata dengan mengikuti cekungan tersebut, kereta roda dapat berjalan dengan lebih terarah dan gampang, pengendara tinggal mengatur kecepatan kereta tanpa repot-repot lagi mengendalikan arah kereta roda. Kemudahan transportasi dengan prinsip jalur rel inilah, yang membuat jalur rel memiliki keunggulan tersendiri, sehingga terus berkembang hingga menjadi jalur rel KA yang kita kenal sekarang ini.
2
Prinsip Rel Kereta Api
Kereta api berjalan dengan roda besi, sehingga membutuhkan jalan khusus agar dapat berjalan dengan baik. Untuk itulah dibuat jalan rel KA dengan permukaan baja, sehingga roda baja KA beradu dengan jalan rel dari baja. Jalan baja ini memiliki karakteristik dan syarat-syarat khusus yang berbeda dengan jalan aspal, sehingga konstruksinya lebih rumit dan melibatkan banyak komponen. Jalan rel KA harus dibangun dengan kokoh, karena setiap rangkaian KA yang lewat memiliki beban yang berat, apalagi setiap harinya akan dilalui berulang kali oleh beberapa rangkaian KA. Oleh karena itu, konstruksi rel KA dibuat sebaik mungkin agar mampu menahan beban berat atau istilahnya BEBAN GANDAR (AXLE LOAD) dari rangkaian KA yang berjalan di atasnya, sehingga jalan baja ini dapat bertahan dalam waktu yang lama dan memungkinkan rangkaian KA dapat berjalan dengan cepat, aman dan nyaman.
Merujuk pada bagan di atas, pada dasarnya konstruksi jalan rel KA terdiri atas 2 bagian. Bagian bawah adalah Track Foundation atau Lapisan Landasan/Pondasi, dan bagian atas adalah Rail Track Structure atau Struktur Trek Rel.Prinsipnya, jalan rel KA harus dapat mentransfer tekanan yang diterimanya dengan baik yang berupa beban berat (axle load) dari rangkaian KA melintas. Dalam arti, jalan rel KA harus tetap kokoh ketika dilewati rangkaian KA, sehingga rangkaian KA dapat melintas dengan cepat, aman, dan nyaman. Roda-roda KA yang melintas akan memberikan tekanan berupa beban berat (axle load) ke permukaan trek rel. Oleh batang rel (rails) tekanan tersebut diteruskan ke bantalan (sleepers) yang ada dibawahnya. Lalu, dari bantalan akan diteruskan ke lapisan ballast dan sub-ballast di sekitarnya. Oleh lapisan ballast, tekanan dari bantalan ini akan disebar ke seluruh permukaan tanah disekitarnya, untuk mencegah amblesnya trek rel.
Konstruksi Jalan Rel Kereta Api
Prinsipnya, lapisan landasan (track foundation) ini dibuat untuk menjaga kestabilan trek rel saat rangkaian KA lewat. Sehingga trek rel tetap berada pada tempatnya, tidak bergoyang-goyang, tidak ambles ke dalam tanah, serta kuat menahan beban rangkaian KA yang lewat. Selain itu, lapisan landasan juga berfungsi untuk mentransfer beban berat (axle load) dari rangkaian KA untuk disebar ke permukaan bumi (pada gambar di atas adalah Subsoil/Natural Ground).
Lapisan landasan merupakan lapisan yang harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum membangun trek rel, sehingga posisinya berada di bawah trek rel dan berfungsi sebagai pondasi. Sebagaimana struktur pondasi pada suatu bangunan, lapisan landasan juga tersusun atas lapisan-lapisan material tanah dan bebatuan, diantaranya :
1. FORMATION LAYER
Formation layer merupakan perkerjaan pemadatan tanah sebagai pondasi trek rel KA. Formation layer ini dipersiapkan sebagai tempat ditaburkannya lapisan ballast. Lapisan ini berupa campuran tanah, pasir, dan lempung yang diatur tingkat kepadatan dan kelembapan airnya. Pada Negara-negara maju yang lintasan KA-nya sangat padat, ditambahkan lapisan Geotextile di bawah formation layer. Geotextile adalah material semacam kain yang bersifat permeable yang terbuat dari polipropilena atau polyester yang berguna untuk memperlancar drainase dari atas ke bawah (subgrade ke subsoil), dan sekaligus memperkuat formation layer.
2. SUB-BALLAST DAN BALLAST
Lapisan ini disebut pula sebagai Tack Bed, karena fungsinya sebagai tempat pembaringan trek rel KA. Lapisan Ballast merupakan suatu lapisan berupa batu-batu berukuran kecil yang ditaburkan di bawah trek rel, tepatnya di bawah, samping, dan sekitar bantalan rel (sleepers). Bahkan terkadang dijumpai bantalan rel yang “tenggelam” tertutup lapisan ballast, sehingga hanya terlihat batang relnya saja.
Fungsi lapisan ballast adalah:
  1. untuk meredam getaran trek rel saat rangkaian KA melintas,
  2. menyebarkan axle load dari trek rel ke lapisan landasan di bawahnya, sehingga trek rel tidak ambles,
  3. menjaga trek rel agar tetap berada di tempatnya,
  4. sebagai lapisan yang mudah direlokasi untuk menyesuaikan dan meratakan ketinggian trek rel (Levelling),
  5. memperlancar proses drainase air hujan,
  6. mencegah tumbuhnya rumput yang dapat mengganggu drainase air hujan.
Ballast yang ditabur biasanya adalah batu kricak (bebatuan yang dihancurkan menjadi ukuran yang kecil) dengan diameter sekitar 28-50 mm dengan sudut yang tajam (bentuknya tidak bulat). Ukuran partikel ballast yang terlalu kecil akan mengurangi kemampuan drainase, dan ukuran yang terlalu besar akan mengurangi kemampuannya dalam mentransfer axle load saat rangkaian KA melintas. Dipilih yang sudutnya tajam untuk mencegah timbulnya rongga-rongga di dalam taburan ballast, sehingga lapisan ballast tersebut susunannya menjadi lebih rapat.
Ballast ditaburkan dalam dua tahap. Pertama saat sebelum perakitan trek rel, yakni ditaburkan diatas formation layer dan menjadi track bed atau “kasur” bagi bantalan rel, agar bantalan tidak bersentuhan langsung dengan lapisan tanah. Karena jika bantalan langsung bersentuhan dengan tanah (formation layer) bisa-bisa bantalan tersebut akan ambles, karena axle load yang diterima bantalan langsung menekan frontal ke bawah karena ketiadaan ballast untuk menyebarkan axle load. Kedua ketika trek rel selesai dirakit, untuk menambah ketinggian lapisan ballast hingga setinggi bantalan, mengisi rongga-rongga antarbantalan, dan di sekitar bantalan itu sendiri. Ballast juga ditabur disisi samping bantalan hingga jarak minimal 50cm dengan kemiringan (slope) tertentu sehingga membentuk “bahu” ballast yang berfungsi menahan gerakan lateral dari trek rel.Padakasus tertentu, sebelum ballast, ditaburkan terlebih dahulu lapisan sub-ballast, yang berupa batu kricak yang berukuran lebih kecil. Fungsinya untuk memperkuat lapisan ballast, meredam getaran saat rangkaian KA lewat, dan sekaligus menahan resapan air dari lapisan blanket dan subgrade di bawahnya agar tidak merembes ke lapisan ballast.
Ketebalan lapisan ballast minimal 150 mm hingga 500 mm, karena jika kurang dari 150 mm menyebabkan mesin pecok ballast (Plasser and Theurer Tamping Machine) justru akan menyentuh formation layer yang berupa tanah, sehingga bercampurlah ballast dengan tanah, yang akan mengurangi elastisitas ballast dalam menahan trek rel dan mengurangi kemampuan drainasenya.Secara periodik, dilakukan perawatan terhadap lapisan ballast dengan dibersihkan dari lumpur dan debu yang mengotorinya, dipecok, atau bahkan diganti dengan yang baru. Untuk itu, dilakukan perawatan dengan mesin khusus yang diproduksi oleh Plasser and Theurer Austria. Di Indonesia ada mesin pemecok ballast (Ballast Tamping Machine) untuk mengembalikan ballast yang telah bergeser ke tempatnya semula, sekaligus merapatkan lapisan ballast di bawah bantalan agar bantalan tidak bersinggungan langsung dengan tanah.
5
Intinya lapisan ballast harus (1) rapat, (2) bersih tidak bercampur tanah dan lumpur, (3) harus ada di bawah bantalan (karena kalau bantalan langsung bersinggungan dengan tanah, akan mengurangi kestabilan jalan rel KA), dan juga (4) elastis (elastis bukan dalam arti material ballastnya yang elastis, tetapi formasi/susunannya yang tidak kaku, dapat bergerak-gerak sedikit) sehingga dapat “mencengkeram” bantalan rel saat rangkaian KA lewat.
Komponen Penyusun Rel Kereta Api
Setelah lapisan landasan sebagai pondasi jalan rel KA selesai dibangun, tahap berikutnya adalah membangun trek rel KA. Perlu diketahui bahwa pada setiap komponen mempengaruhi kualitas rel KA itu sendiri. Gambar di bawah ini adalah skema konstruksi jalan rel KA beserta komponen-komponennya.
11
1. BATANGAN BESI BAJA
Batang rel terbuat dari besi ataupun baja bertekanan tinggi, dan juga mengandung karbon, mangan, dan silikon. Batang rel khusus dibuat agar dapat menahan beban berat (axle load) dari rangkaian KA yang berjalan di atasnya. Inilah komponen yang pertama kalinya menerima transfer berat (axle load) dari rangkaian KA yang lewat. Tiap potongan (segmen) batang rel memiliki panjang 20-25 m untuk rel modern, sedangkan untuk rel jadul panjangnya hanya 5-15 m tiap segmen. Batang rel dibedakan menjadi beberapa tipe berdasarkan berat batangan per meter panjangnya.
Di Indonesia dikenal 4 macam batang rel, yakni R25, R33, R42, dan R54. Misalkan, R25 berarti batang rel ini memiliki berat rata-rata 25 kilogram/meter. Makin besar “R”, makin tebal pula batang rel tersebut.Berikut ini daftar rel yang digunakan di Indonesia menggunakan standar UIC dengan Standar:
  • Rel 25 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 25 kilogram (kg).
  • Rel 33 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 33 kilogram (kg).
  • Rel 41 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 41 kilogram (kg).
  • Rel 42 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 42 kilogram (kg).
  • Rel 50 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 50 kilogram (kg).
  • Rel 54 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 54 kilogram (kg).
  • Rel 60 yang berarti tiap 1 meter potongan rel beratnya adalah 60 kilogram (kg).
Perbedaan tipe batang rel mempengaruhi beberapa hal, antara lain (1) besar tekanan maksimum (axle load) yang sanggup diterima rel saat KA melintas, dan (2) kecepatan laju KA yang diijinkan saat melewati rel. Semakin besar “R”, maka makin besar axle load yang sanggup diterima oleh rel tersebut, dan KA yang melintas di atasnya dapat melaju pada kecepatan yang tinggi dengan stabil dan aman.
Tipe rel paling besar yang digunakan di Indonesia adalah UIC R54) yang digunakan untuk jalur KA yang lalu lintasnya padat, seperti lintas Jabodetabek dan lintas Trans Jawa. Tak ketinggalan lintas angkutan batubara di Sumsel-Lampung yang memiliki axle load paling tinggi di Indonesia.
2. BANTALAN REL
Bantalan rel (sleepers) dipasang sebagai landasan dimana batang rel diletakkan dan ditambatkan. Berfungsi untuk (1) meletakkan dan menambat batang rel, (2) menjaga kelebaran trek (track gauge, adalah ukuran lebar trek rel. Indonesia memiliki track gauge 1067 mm) agar selalu konstan, dengan kata lain agar batang rel tidak meregang atau menyempit, (3) menumpu batang rel agar tidak melengkung ke bawah saat dilewati rangkaian KA, sekaligus (4) mentransfer axle load yang diterima dari batang rel dan plat landas untuk disebarkan ke lapisan batu ballast di bawahnya.
Oleh karena itu bantalan harus cukup kuat untuk menahan batang rel agar tidak bergesar, sekaligus kuat untuk menahan beban rangkaian KA. Bantalan dipasang melintang dari posisi rel pada jarak antarbantalan maksimal 60 cm. Ada tiga jenis bantalan, yakni :
(1) Bantalan Kayu (Timber Sleepers), terbuat dari batang kayu asli maupun kayu campuran, yang dilapisi dengan creosote (minyak pelapis kayu) agar lebih awet dan tahan jamur
(2) Bantalan Plat Besi (Steel Sleepers), merupakan bantalan generasi kedua, lebih awet dari kayu. Bantalan besi tidak dipasang pada trek yang ter-eletrifikasi maupun pada trek yang menggunakan persinyalan elektrik
(3) Bantalan Beton Bertulang (Concrete Sleepers), merupakan bantalan modern saat ini, dan paling banyak digunakan karena lebih kuat, awet, murah, dan mampu menahan beban lebih besar daripada dua bantalan lainnya.
bantalan 1
Perbandingan umur bantalan rel KA yang dipergunakan dalam keadaan normal dapat ditaksir sebagai berikut :
  • Bantalan kayu yang tidak diawetkan: 3-15 tahun.
  • Bantalan kayu yang diawetkan: 25-40 tahun.
  • Bantalan besi baja: sekitar 45 tahun.
  • Bantalan beton: diperkirakan 60 tahun.
3. PLAT LANDAS
Pada bantalan kayu maupun besi, di antara batang rel dengan bantalan dipasangi Tie Plate (plat landas), semacam plat tipis berbahan besi tempat diletakkannya batang rel sekaligus sebagai lubang tempat dipasangnya Penambat (Spike). Sedangkan pada bantalan beton, dipasangi Rubber Pad, sama seperti Tie Plate, tapi berbahan plastik atau karet dan fungsinya hanya sebagai landasan rel, sedangkan lubang/tempat dipasangnya penambat umumnya terpisah dari rubber pad karena telah melekat pada beton.
Fungsi plat landas selain sebagai tempat perletakan batang rel dan juga lubang penambat, juga untuk melindungi permukaan bantalan dari kerusakan karena tindihan batang rel, dan sekaligus untuk mentransfer axle load yang diterima dari rel di atasnya ke bantalan yang ada tepat dibawahnya.
bantalan 2
4. PENAMBAT REL
Fungsinya untuk menambat/mengaitkan batang rel dengan bantalan yang menjadi tumpuan batang rel tersebut, agar (1) batang rel tetap menyatu pada bantalannya, dan (2) menjaga kelebaran trek (track gauge). Jenis penambat yang digunakan bergantung kepada jenis bantalan dan tipe batang rel yang digunakan. Ada dua jenis penambat rel, yakni Penambat Kaku dan Penambat elastis.
Penambat kaku misalnya paku rel, mur, baut, sekrup, atau menggunakan tarpon yang dipasang menggunakan pelat landas. Umumnya penambat kaku ini digunakan pada jalur kereta api tua. Karakteristik dari penambat kaku adalah selalu dipasang pada bantalan kayu atau bantalan besi. Penambat kaku kini sudah tidak layak digunakan untuk jalan rel dengan frekuensi dan axle load yang tinggi. Namun demikian tetap diperlukan sebagai penambat rel pada bantalan kayu yang dipasang pada jalur wesel, jembatan, dan terowongan.
bantalan 3
Penambat elastis dibuat untuk menghasilkan jalan rel KA yang berkualitas tinggi, yang biasanya digunakan pada jalan rel KA yang memiliki frekuensi dan axle load yang tinggi. Karena sifatnya yang elastis sehingga mampu mengabsorbsi getaran pada rel saat rangkaian KA melintas, oleh karena itu perjalan KA menjadi lebih nyaman dan dapat mengurangi resiko kerusakan pada rel maupun bantalannya. Selain itu penambat elastis juga dipakai pada rel yang disambungan dengan las termit (istilahnya Continuous Welded Rails, karena sambungan rel dilas sehingga tidak punya celah pemuaian) karena kemampuannya untuk menahan batang rel agar tidak bergerak secara horizontal saat pemuaian. Penambat elastis inilah yang sekarang banyak digunakan, terutama pada bantalan beton, meskipun ada juga yang digunakan pada bantalan kayu dan bantalan besi.
Berbagai macam penambat elastis, antara lain:
  1. Penambat Pandrol E-Clip produksi Pandrol Inggris
  2. Penambat Pandrol Fastclip produksi Pandrol Inggris
  3. Penambat Kupu-kupu produksi Vossloh
  4. Penambat DE-Clip produksi PT. Pindad Bandung
  5. Penambat KA Clip produksi PT. Pindad Bandung.
Yang digunakan di Indonesia adalah E-Clip, DE-Clip, dan KA Clip.
bantalan 4
5. PLAT BESI PENYAMBUNG

Merupakan plat besi dengan panjang sekitar 50-60 cm, yang berfungsi untuk menyambung dua segmen/potongan batang rel. Pada plat tersebut terdapat 4 atau 6 lubang untuk tempat skrup/baut (Bolt) penyambung serta mur-nya (Nut). Batang rel biasanya hanya memiliki panjang sekitar 20-25 meter tiap potongnya, sehingga perlu komponen penyambung berupa plat besi penyambung beserta bautnya. Pada setiap sambungan rel, terdapat celah pemuaian (Expansion Space), sehingga saat rangkaian KA lewat akan terdengar bunyi “jeg-jeg…jeg-jeg” dari bunyi roda KA yang melewati celah pemuaian tersebut.
Penyambungan rel menggunakan komponen-komponen di atas dikenal sebagai Metode Sambungan Tradisional (Conventional Jointed Rails). Sedangkan dewasa ini telah dikenal metode penyambungan rel dengan Las Termit, yang disebut dengan Continuous Welded Rails (CWR). Dengan metode CWR, tiap 2 sampai 4 potong batang rel dapat dilas menjadi satu rel yang panjang tanpa diberi celah pemuaian, sehingga tiap CWR memiliki panjang sekitar 40-100 m.
CWR biasanya diterapkan pada jalur dengan kecepatan laju KA yang tinggi, karena permukaan rel menjadi lebih rata dan halus sehingga rangkaian KA dapat lewat dengan lebih nyaman. Penerapan CWR juga mengurangi resiko rusaknya roda KA, karena roda KA akan “njeglong” atau “tersandung” saat melewati celah pemuaian. Lalu bagaimana dengan pemuaian batang rel? hal ini dapat disiasati dengan menggunakan penambat elastis yang mampu menahan gerakan pemuaian batang rel (gerakan mendatar dimana batang rel akan meregang saat panas dan menyusut saat dingin). Jika penambatnya berupa penambat kaku, bisa disiasati dengan memasang rail anchor.
bantalan 5
6. RAIL ANCHOR
Satu lagi komponen trek rel KA yakni rail anchor (anti creep). Rail anchor digunakan pada rel yang disambung secara CWR. Fungsinya untuk menahan gerakan pemuaian batang rel, karena pada sambungan CWR tidak terdapat celah pemuaian.
Pada gambar di bawah, rail anchor dipasang di bawah permukaan batang rel tepat disamping bantalan agar dapat menahan gerakan pemuaian rel. Rail anchor tidak dipasang pada rel yang ditambat dengan penambat elastic, karena fungsinya sama seperti penambat elastis, yakni untuk mencegah gerakan pemuaian batang rel. Jadi, rail anchor dipasang bersama dengan penambat kaku pada bantalan kayu atau besi.
bantalan 6
sumber: https://hendriyana90.wordpress.com/konstruksi-rel-kereta-api/

TENTANG K3 DI BIDANG JASA (PELABUHAN)

TENTANG K3 DI BIDANG JASA (PELABUHAN) 1.1       Pengertian K3 Di Bidang Jasa Kesehatan kerja adalah merupakan bagian dari kesehatan m...